Tampilkan postingan dengan label kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 Agustus 2014

Kisah Nyata – Berkat Doa Akhirnya Punya Anak Setelah Divonis Mandul

Inilah kisah keajaiban sebuah doa. Lima tahun berkeluarga, Nur dan Rio tidak juga mendapatkan putra. Kegelisahan Nur semakin bertambah setelah hasil tes rumah sakit menunjukkan bahwa dirinya mandul. Nur bahkan kehilangan keceriannya selama beberapa minggu setelah mengetahui hasil tes itu. Wanita berusia 29 tahun itu seperti kehilangan nyawa. Rio sendiri menyesal telah mengajak istrinya untuk bersama-sama memeriksakan kesuburan mereka.

Kisah Nyata – Berkat Doa Akhirnya Punya Anak Setelah Divonis Mandul


Suatu hari, Rio teringat Haji Muhidin yang terkenal bijak. Ia pun memutuskan untuk silaturahim dan berbagi masalah yang berat itu, siapa tahu haji yang tersohor dengan kebaikannya ini bisa membantu.

“Maaf, kapan terakhir Nak Rio berdoa...?” tanya Haji Muhidin setelah Rio bercerita mengenai masalahnya dan kondisi istrinya yang saat ini ‘setengah gila’ karena tidak bisa menerima kenyataan bahwa dirinya mandul.

“Lupa saya...” jawab Rio malu-malu. Ia mengakui sudah lama tidak berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. “Bahkan perasaan saya, sejak SMP saya tidak shalat.”

Haji Muhidin manggut-manggut. Ia tidak menyalahkan Rio karena boleh jadi orangtuanya yang tidak mendidiknya dengan baik. Tidak mengenalkannya kepada Allah sebagai Tuhan yang wajib disembah dan dimintai pertolongan.

“Mengapa sekarang tidak memulainya lagi? Memulai berdoa dan shalat maksud saya,” Haji Muhidin memberikan umpan pertanyaan.

“Begitu ya?...”

“Nanti saya ajari caranya,” Haji Muhidin menangkap keragu-raguan Rio, bahwa ia memang tidak bisa shalat.

“Shalatlah dulu semampu Nak Rio, sambil perlahan-lahan diperbaiki. Tapi kalau berdoa, Nak Rio tidak perlu belajar. Berdoa itu hanya perlu keyakinan akan dikabulkan Sang Maha, dan berdoa hanya perlu kesungguhan hati sebagai prasyarat awal.”

“Nak Rio tahu? Tuhan itu begitu Kuasa. Ia mampu mengabulkan permintaan yang kadang bagi kita tidak mungkin. Kadang kita merasa tersudut, nyatanya Dia masih berkenan memberikan jalan keluar. Kadang kita merasa terjatuh, tapi Dia berkenan membuat kita bangkit. Dan kadang kita merasa sesuatu sudah berakhir, tapi nyatanya Dia masih berkenan memberikan kesempatan.”

Pertemuan itu benar-benar berpengaruh besar dalam hidup Rio. Ia bagaikan bertemu oase di padang pasir. Ia mendengarkan dengan sungguh-sungguh nasehat Haji Muhidin yang menjelaskan bahwa tidak semua hal berjalan sesuai dengan kehendak manusia.

“Berdoa dan menyandarkan diri kepada Sang Khaliq akan membuat hati kita tetap sejuk untuk sadar, dan itulah sisi keterbatasan kita sebagai manusia, sambil tidak lupa berusaha dan berdoa.”

“Bukan kemandulan yang harus disedihkan, tetapi tidak punya iman yang harus dikhawatirkan.” Nasehat ini terus diingat oleh Rio, menjadi pegangan hidupnya.

Dan lima tahun kemudian, setelah terus berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, istri Rio bukan saja pulih kondisi fisik dan mentalnya, ia kini juga sedang berada di rumah sakit. Bukan untuk rawat lanjutan, melainkan untuk menjalani proses bersalin.


“Allahu Maha Besar,” kata Rio di samping Haji Muhidin yang menemaninya di rumah sakit, “Saya sendiri tidak tahu bagaimana keajaiban ini bisa terjadi.”  Mari kita berdoa ![Disarikan Abu Nida dari Kun Fayakun karya Ust. Yusuf Mansur]

Selasa, 12 Agustus 2014

Kisah hikmah mencari yang halal

Kisah- kisah Hikmah Ulama yang penuh makna sangat perlu dijadikan tauladan bagi kita sebagai umat Islam. Karena Ulama merupakan pewaris Para Nabi dalam mensyiarkan petunjuk dari Allah SWT. Agar Manusia pada umumnya dan Umat Islam pada khususnya, berjalan dan menjalani kehidupan sesuai aturan dan petunjuk Allah SWT sebagai Pencipta manusia.
Mencari Rizki yang halal merupakan kewajiban manusia, karena dengan mencari yang halal maka hal itu merupakan perintah langsung dari Allah SWT dan banyak bermanfaat bagi dirinya maupun yang mengkonsumsinya, khususnya keluarganya.


Kisah Hikmah Ayah Imam Syafii Mencari Rizki yang Halal
Seorang pemuda bernama Idris berjalan menyusuri sungai. Tiba-tiba ia melihat buah delima yang hanyut terbawa air. Ia ambil buah itu dan tanpa pikir panjang langsung memakannya.
Ketika Idris sudah menghabiskan setengah buah delima itu, baru terpikir olehnya, apakah yang dimakannya itu halal? Buah delima yang dimakan itu bukan miliknya.
Idris berhenti makan. Ia kemudian berjalan ke arah yang berlawanan dengan aliran sungai, mencari dimana ada pohon delima. Sampailah ia di bawah pohon delima yang lebat buahnya, persis di pinggir sungai. Dia yakin, buah yang dimakannya jatuh dari pohon ini.
Idris lantas mencari tahu siapa pemilik pohon delima itu, dan bertemulah dia dengan sang pemilik, seorang lelaki setengah baya.
“Saya telah memakan buah delima anda. Apakah ini halal buat saya? Apakah anda mengihlaskannya?” kata Idris.
Orang tua itu, terdiam sebentar, lalu menatap tajam. “Tidak bisa semudah itu. Kamu harus bekerja menjaga dan membersihkan kebun saya selama sebulan tanpa gaji,” katanya kepada Idris.
Demi memelihara perutnya dari makanan yang tidak halal, Idris pun langsung menyanggupinya.
Sebulan berlalu begitu saja. Idris kemudian menemui pemilik kebun.
“Tuan, saya sudah menjaga dan membersihkan kebun anda selama sebulan. Apakah tuan sudah menghalalkan delima yang sudah saya makan?”
“Tidak bisa, ada satu syarat lagi. Kamu harus menikahi putri saya; Seorang gadis buta, tuli, bisu dan lumpuh.”
Idris terdiam. Tapi dia harus memenuhi persyaratan itu.
Idris pun dinikahkan dengan gadis yang disebutkan. Pemilik menikahkan sendiri anak gadisnya dengan disaksikan beberapa orang, tanpa perantara penghulu.
Setelah akad nikah berlangsung, tuan pemilik kebun memerintahkan Idris menemui putrinya di kamarnya. Ternyata, bukan gadis buta, tulis, bisu dan lumpuh yang ditemui, namun seorang gadis cantik yang nyaris sempurna. Namanya Ruqoyyah.
Sang pemilik kebun tidak rela melepas Idris begitu saja; Seorang pemuda yang jujur dan menjaga diri dari makanan yang tidak halal. Ia ambil Idris sebagai menantu, yang kelak memberinya cucu bernama Syafi’i, seorang ulama besar, guru dan panutan bagi jutaan kaum muslimin di dunia.

Baca Juga :

Kisah Hikmah, KetikaImam Syafii Tidak Qunut

KisahHikmah, Pembelaan Hasan al-Bashri kepada Rakyat

Kisah Hikmah, ToleransiHasan Basri Bertetangga Nasrani