Tampilkan postingan dengan label dur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dur. Tampilkan semua postingan

Senin, 25 Agustus 2014

Gus Dur Hafal Ratusan Kitab Kuning Beserta Matan dan Syarahnya




Kyai Haji Abdurrahman Wahid, mantan Presiden RI yang ke-4 sudah lama saya kenal melalui siaran televisi, koran-koran dan buku-buku yang memuat pemikiran beliau. Namun yang paling berkesan bagi saya adalah saat kami berdua pernah duduk bersama seharian penuh dari pukul 07.00 pagi hari sampai 19.00 malam hari. Kebersamaan kami berlangsung di Riau, tepatnya di kediaman Gubernur Riau, H. M. Rusli Zainal. Ketika itu Gubernur Riau sendiri yang meminta saya untuk menemani Gusdur sebagai pengganti  tuan rumah, karena Gubernur Riau tidak dapat terus menerus menemani Gusdur.
Jadilah pertemuan kami itu berlangsung aman, tanpa ada gangguan sedikitpun. Saya masih ingat rombongan Gusdur saat itu lumayan ramai juga, di antaranya adalah Muhaimin Iskandar (sekarang menjadi Menteri Tenaga Kerja RI), dan saudara Lukman Edi (seorang anggota DPR RI). Sepanjang hari itu, kami duduk bersebelahan dan berbicara panjang lebar mulai dari masalah agama, masalah negara, masalah pemimpin-pemimpin Indonesia.
Ketika membicarakan masalah agama kami terlibat dalam pembicaraan sangat serius. Saat itu kami berkesempatan untuk membuktikan secara langsung kata-kata orang yang banyak saya dengar, yang menyatakan bahwa Gusdur menguasai banyak kitab-kitab klasik. Maka kami membuka dialog dengan mencuplik kitab-kitab klasik yang pernah kami baca mulai dari karangan Imam As Syafii, Imam Harmaini, Imam Al Ghazali, Imam Ibnu Katsir, dan lain-lain. Apa yang terjadi...? Gusdur ternyata bukan hanya mahir mengimbangi pembicaraan mengenai berbagai permasalahan yang kami kemukakan, namun dengan mahir beliau malah membacakan matan-matan semua persoalan tersebut dalam bahasa Arab yang asli, tepat seperti isi kitab yang asli. Tidak dapat kami pungkiri bahwa saat itu hati kami bergetar, kagum, heran, juga bahagia. Yakinlah kami bahwa Allah benar-benar Maha Kuasa dan telah menciptakan hamba-hambaNya dengan berbagai kelebihan. Subhanallah...
Ketika membahas kepemimpinan nasional, Gusdur dengan disertai humor-humor kocak sana sini menjelaskan dan berdiskusi dengan kami tentang banyak hal. Satu yang sangat kami catat kuat dalam ingatan kami bahwa tidak pernah sekalipun terucap kata-kata jelek yang bersifat mempersalahkan seorangpun dari pemimpin nasional kita. Ketika membahas Pak Harto, nada ucapan beliau berubah menjadi sangat lembut dan serius. Saat itu Gusdur berkata dan kami masih ingat benar, beliau berucap begini: "Pak Harto sebagai seorang pemimpin nasional telah memberikan contoh sebuah pekerjaan yang terencana dan terukur. Program beliau direncanakan rapi dan diukur setelah waktu pelaksanaan berakhir." Kemudian beliau berdiam berapa saat. Kemudian beliau tertawa kecil seraya berkata sambil tertawa: "laahh kalo saya, kerja kapan inget, terus saya buat saja.."
Kesan saya saat itu muncul, sebagai orang Jawa asli, Gusdur terbiasa dengan sikap dan adab orang Jawa, mikul nduwur yaitu menghormati orang yang lebih tua. Beliau jujur dan humoris. Jujur dalam arti tidak menyembunyikan kelemahan dirinya.
Pertemuan kami berjalan manis. Kami hanya berpisah beberapa menit saat waktu sholat Dzuhur dan Ashar tiba, untuk kemudian duduk kembali di meja yang sama. Ada beberapa keistimewaan Gusdur yang saya yakin muncul dari indera keenam beliau. Ketika beliau bertanya kepada kami: "Sampeyan itu kan orang Medan, kok kata Gubernur tadi, sampeyan orang Riau?" Kemudian kami menjelaskan bahwa ibu kami adalah orang Riau dari Rokan Hilir, Bagan Siapi-api. Namun kemudian beliau berkata: "Rumah sampeyan di Klender, sampeyan buat pengajian malam senin di Klender, terus sampeyan begini...sampeyan begitu.." yang kesemuanya tepat dan benar. Paling aneh adalah saat kami katakan bahwa kami akan pulang pukul 17.00 dengan pesawat Mandala, saat itu beliau berkata kepada saya dengan tegas: "Ndak, sampeyan pulang dengan saya naek Garuda jam 7 (malam)." Menanggapi ucapan itu kami diam saja sebab di tangan kami sudah ada tiket Mandala pukul 5 sore rute Pekanbaru-Jakarta.
Ternyata pesawat Mandala delay sampai pukul 21.00, maka jadilah kami bertukar pesawat naik Garuda Indonesia bersama dengan Gusdur. Ada satu nasehat beliau kepada kami yang akan tetap kami ingat. "Negeri Riau adalah negerinya orang-orang Naqsyabandi. Dan dari sini telah muncul seorang wali besar Syaikh Abdul Wahab Rokan. Sampeyan musti jaga negeri ini, jangan dibiarkan begitu saja apalagi ibunya sampeyan orang asli negeri ini." Saat itu beliau pegang tangan saya dan saya pun menjawab dengan rasa haru: "Iya Gus, saya pasti akan menjaga negeri saya ini."
Sekarang Gusdur telah berpulang bertemu dengan Sang Pencipta Yang Maha Tinggi. Setelah sebelumnya memandang dengan bashirah beliau kedatangan sang kakek tercinta, Ulama Besar pendiri NU untuk mendampingi beliau di alam barzakh. Kami berdoa semoga beliau nyaman berdekatan dengan Kakek dan Bapak beliau di tanah Jombang, Pesantren keluarga besar Syaikh Asyari.

Saifurroyya
Sumber : tengkuzulkarnain.net

Minggu, 24 Agustus 2014

Ternyata Gus Dur Seorang Hafidz Al Qur’an

Gus Dur Bersama KH. Syaroni Ahmadi (Kudus)

Suatu ketika KH. Zainal Arifin pengasuh PP. Al Arifiyyah Medono Kota Pekalongan, diminta tolong oleh panitia untuk menjemput Al Maghfurlah KH. Abdurahman Wahid atau Gus Dur untuk mengisi sebuah acara akbar di Kota Pekalongan, waktu itu panitia minta didampingi KH. Zainal untuk menjemput Gus Dur yang sedang mengisi acara pengajian di Semarang Jateng, seusai acara dan ramah tamah dengan tamu-tamu, Gus Dur memutuskan untuk ikut rombongannya KH. Zainal dan Panitia ke Pekalongan, waktu itu meluncur dari Semarang antara jam 1- 2 dini hari, KH. Zainal dan Panitia setelah berbincang secukupnya dengan Gus Dur tahu diri dan mempersilahkan Gus Dur untuk Istirahat di mobil yang melaju dengan tenang sebab jalur pantura jam segitu juga sudah lengang dan sepi, apalagi dengan keterbatasan kesehatan Gus Dur dan seabrek kegiatannya dari pagi hingga dini hari tersebut tentu menguras banyak energi dan tenaga. Alih-alih istirahat, Gus Dur malah menggunakan waktunya dengan membaca Al-Qur’an dengan hafalan (Bil Ghoib). Sementara KH. Zainal dan panitia yang jelas secara fisik lebih sehat 100% dibanding Gus Dur saja sudah kecapaian, bahkan hampir terlelap. Namun, mereka terkejut ketika mendengar perlahan-lahan, ternyata Gus Dur sedang mendarus Al-Quran secara hafalan.  Kontan, rasa kantuk KH. Zainal dan panitia hilang, sambil penasaran KH. Zainal pun menyimak hafalannya Gus Dur,
Tak terasa, satu jam lewat sampailah di Pekalongan, air mata KH. Zainal tumpah ruah, ia membayangkan orang yang selama ini sering disalahpahami berbagai pihak, di kafir-kafirkan, dikritik, dihina, dan sebagainya. Malam itu dengan fisik dan kesehatan yang sangat terbatas dan kelelahan yang luar biasa setelah hampir sehari semalam beraktifitas penuh dengan berbagai kegiatan, malam ini dalam waktu satu jam perjalanan Semarang-Pekalongan ternyata masih menyempatkan membaca Al-Quran dengan hafalan sampai lima juz lebih. Allahu Akbar
Lalu apakah mereka yang mengkafir-kafirkan beliau sanggup melakukan hal demikian. Subhanallah,ternyata itu salah satu kebiasaan Gus Dur saat berada dalam mobil,  berbeda dengan kita, jangankan baca Al-Quran, berdoa saja terkadang lupa, malahan lebih parah lagi mendengarkan musik yang tidak karu-karuan (pop/rock). Apakah mereka yang merasa lebih Islami dari Gus Dur melakukan hal seperti itu?


Saifurroyya
Sumber: https://www.facebook.com/maghfiroh.simbany?ref=ts&fref=ts