Tampilkan postingan dengan label qur’an. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label qur’an. Tampilkan semua postingan

Minggu, 24 Agustus 2014

Keistimewaan Para Penghafal Al Qur’an


Al-Qur’an adalah kemuliaan yang paling tinggi. Al-Quran adalah kalam Allah swt. Al-Qur’an adalah kitab yang diturunkan dengan penuh berkah, Al-Qur’an memberikan petunjuk manusia kepada jalan yang lurus. Tidak ada keburukan di dalamnya, Oleh karena itu, sebaik-baik manusia adalah mereka yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya. Rasulullah saw. bersabda, ”Sebaik-baik orang diantara kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari).
 Orang-orang yang mempelajari Al-Qur’an, baik membaca dengan tartil maupun menghafal dengan baik adalah termasuk hamba-hamba Allah yang terpilih. Sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya:
“Kemudian Kitab itu (Al-Qur’an) Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan di antara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar”. (QS. Fathir : 32)
Saya teringat dawuh KH. M. Ulin Nuha Arwani tentang tingkatan hamba-hamba yang dipilih Allah pada ayat diatas. Beliau menguraikan ;
Pertama, orang yang menganiaya dirinya sendiri adalah para penghafal Al-Qur’an yang tidak mau merenung (tadabbur) dan tidak mau mengamalkan isi Al-Qur’an. Bahkan tingkah laku dan perbuatan mereka sangat bertentangan dengan Al-Qur’an.
Kedua, orang yang pertengahan adalah para penghafal Al-Qur’an yang sangat jarang lupa dan salah jalan dan waktunya dihabiskan untuk merenung dan mengamalkan isi Al-Qur’an. Diantara golongan hamba ini adalah para Ustadz dan Kyai.
Ketiga, orang yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah adalah para penghafal Al-Qur’an yang seluruh hidup dan waktunya untuk merenung, berdakwah dan mengamalkan isi Al-Qur’an. Diantara golongan hamba ini adalah para Wali-Wali Allah dan Nabi-Nabi Allah.
Seseorang yang berpegang  teguh pada Al Qur’an, sebagai modal kekuatan pegangan dan landasan filsafat hidup maka orang itu akan mampu tegar, tidak gampang menyerah, sigap dalam menentukan sikap, dan tidak akan mudah diombang-ambingkan oleh ketidakpastian situasi, tidak mudah terpengaruh oleh prinsip hidup lain, hal itu karena prinsip dalam kepribadiannya sudah mantap dan semua itu akan tercermin dalam sikapnya dalam menyelesaikan persoalan hidup. Alangkah indahnya hidup kita, bila kita tidak hanya sekedar bisa membaca Al-Qur’an, tetapi juga menghafal dan mengamalkannya. Dan mudah-mudahan kita masuk dalam golongan hamba Allah yang pertengahan, karena sebagai hamba yang dha’if sangat mustahil kita masuk dalam golongan yang ketiga tanpa izin Allah.
 Banyak hadits Rasulullah saw. yang mendorong untuk menghafal Al-Qur’an atau membacanya di luar kepala, sehingga hati seorang individu muslim tidak kosong dari sesuatu bagian dari kitab Allah swt.  Seperti dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas ra., “Orang yang tidak mempunyai hafalan Al-Qur’an sedikit pun adalah seperti rumah kumuh yang mau runtuh (HR. Tirmidzi)
Dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda:  “Penghafal Al-Qur’an akan datang pada hari kiamat, kemudian Al-Qur’an akan berkata: Wahai Tuhanku, bebaskanlah dia, kemudian orang itu dipakaikan mahkota karamah (kehormatan), Al-Qur’an kembali meminta: Wahai Tuhanku, tambahkanlah, maka orang itu dipakaikan jubah karamah. Kemudian Al-Qur’an memohon lagi: Wahai Tuhanku, ridhai-lah dia, maka Allah meridhai-nya. Dan diperintahkan kepada orang itu, bacalah dan teruslah naiki (derajat-derajat surga), dan Allah menambahkan dari setiap ayat yang dibacanya tambahan nikmat dan kebaikan”  (HR. Tirmidzi)
Keistimewaan Menghafal Al-Qur’an
  1. Al-Qur’an akan menjadi penolong (syafa’at) bagi penghafalnya.
Dari Abi Umamah ra. ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Bacalah olehmu Al-Qur’an, sesungguhnya ia akan menjadi pemberi syafa’at pada hari kiamat bagi para pembacanya (penghafalnya).”" (HR. Bukhari dan Muslim)
  1. Nabi saw. memberikan amanat pada para hafizh dengan mengangkatnya sebagai pemimpin delegasi.
Dari Abu Hurairah ra., ia berkata, “Telah mengutus Rasulullah saw. sebuah delegasi yang banyak jumlahnya, kemudian Rasul menguji hafalan mereka, kemudian satu per satu disuruh membaca apa yang sudah dihafal, maka sampailah pada sahabat yang paling muda usianya, beliau bertanya, “Surat apa yang kau hafal? Ia menjawab,”Aku hafal surat ini.. surat ini.. dan surat Al-Baqarah.” Benarkah kamu hafal surat Al-Baqarah?” Tanya Nabi lagi. Sahabat menjawab, “Benar.” Nabi bersabda, “Berangkatlah kamu dan kamulah pemimpin delegasi.” (HR. Tirmidzi dan Nasa’i).
  1. Nikmat mampu menghafal Al-Qur’an sama dengan nikmat kenabian, bedanya ia tidak mendapatkan wahyu.
“Barangsiapa yang membaca (hafal) Al-Qur’an, maka sungguh dirinya telah menaiki derajat kenabian, hanya saja tidak diwahyukan padanya.” (HR. Hakim)
  1. Seorang hafizh Al Qur’an adalah orang yang mendapatkan tasyrif nabawi (Penghargaan khusus dari Nabi saw). Di antara penghargaan yang pernah diberikan Nabi saw. kepada para sahabat penghafal Al-Qur’an adalah perhatian yang khusus kepada para syuhada Uhud yang hafidz Al-Qur’an. Rasul mendahulukan pemakamannya.
“Adalah Nabi mengumpulkan diantara orang syuhada uhud, kemudian beliau bersabda, “Manakah diantara keduanya yang lebih banyak hafal Al-Qur’annya, ketika ditunjuk kepada salah satunya, maka beliu mendahulukan pemakamannya di liang lahat.” (HR. Bukhari)
  1. Hafidz Qur’an adalah keluarga Allah yang berada di atas bumi. Dengan syarat, Hafidz tersebut mau merenung (tadabbur) dan mengamalkan isi Al-Qur’an.
“Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga di antara manusia, para sahabat bertanya, “Siapakah mereka ya Rasulullah?” Rasul menjawab, “Para ahli (penghafal) Al-Qur’an. Merekalah keluarga Allah dan pilihan-pilihan-Nya.” (HR. Ahmad)
  1. Siapa yang membaca Al-Qur’an, mempelajarinya, dan mengamalkannya, maka dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari kiamat. Cahayanya seperti cahaya matahari dan kedua orang tuanya dipakaikan dua jubah (kemuliaan) yang tidak pernah didapatkan di dunia. Keduanya bertanya, “Mengapa kami dipakaikan jubah ini?” Dijawab,”Karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari (menghafal) Al-Qur’an.” (HR. Hakim)
  2. “Dan perumpamaan orang yang membaca Al-Qur’an sedangkan ia hafal ayat-ayatnya bersama para malaikat yang mulia dan taat.” (HR. Bukhari dan Muslim)
  3. Dari Abdillah bin Amr bin ‘Ash dari Nabi saw., beliau bersabda, “Akan dikatakan kepada penghafal Al-Qur’an, “Bacalah dan naiklah serta tartilkan sebagaimana engkau dulu mentartilkan Al-Qur’an di dunia, sesungguhnya kedudukanmu di akhir ayat yang kau baca.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)
  4. Kepada hafidz Al-Qur’an, Rasul saw. menetapkan berhak menjadi imam shalat berjama’ah.
Rasulullah saw. bersabda, “Yang menjadi imam suatu kaum adalah yang paling banyak hafalannya.” (HR. Muslim)
  1. “Barangsiapa yang membaca satu huruf dari Al Qur’an maka baginya satu kebaikan, dan kebaikan itu akan dilipatgandakan sepuluh kali. Aku tidak mengatakan Alif Lam Mim itu satu huruf, namun Alif itu satu huruf, Lam satu huruf dan Mim satu huruf.”  (HR. Tirmidzi).
  2. Bahkan Allah membolehkan seseorang memiliki rasa iri terhadap para ahlul Qur’an,
“Tidak boleh seseorang berkeinginan (iri) kecuali dalam dua perkara, menginginkan seseorang yang diajarkan oleh Allah kepadanya Al-Qur’an kemudian ia membacanya sepanjang malam dan siang, sehingga tetangganya mendengar bacaannya, kemudian ia berkata, ‘Andaikan aku diberi sebagaimana si fulan diberi, sehingga aku dapat berbuat sebagaimana si fulan berbuat’” (HR. Bukhari)
Begitu banyak keistimewaan menghafal Al-Qur’an, tapi karena kesibukan dunia dan segala pesonanya yang menggoda, membuat kita jadi malas melakukannya. Karena itu, mulai sekarang, sebaiknya kita mulai meluangkan waktu untuk mulai kembali menghafal Al-Qur’an.


Disusun Oleh Saifurroyya Dari Berbagai Sumber

Ternyata Gus Dur Seorang Hafidz Al Qur’an

Gus Dur Bersama KH. Syaroni Ahmadi (Kudus)

Suatu ketika KH. Zainal Arifin pengasuh PP. Al Arifiyyah Medono Kota Pekalongan, diminta tolong oleh panitia untuk menjemput Al Maghfurlah KH. Abdurahman Wahid atau Gus Dur untuk mengisi sebuah acara akbar di Kota Pekalongan, waktu itu panitia minta didampingi KH. Zainal untuk menjemput Gus Dur yang sedang mengisi acara pengajian di Semarang Jateng, seusai acara dan ramah tamah dengan tamu-tamu, Gus Dur memutuskan untuk ikut rombongannya KH. Zainal dan Panitia ke Pekalongan, waktu itu meluncur dari Semarang antara jam 1- 2 dini hari, KH. Zainal dan Panitia setelah berbincang secukupnya dengan Gus Dur tahu diri dan mempersilahkan Gus Dur untuk Istirahat di mobil yang melaju dengan tenang sebab jalur pantura jam segitu juga sudah lengang dan sepi, apalagi dengan keterbatasan kesehatan Gus Dur dan seabrek kegiatannya dari pagi hingga dini hari tersebut tentu menguras banyak energi dan tenaga. Alih-alih istirahat, Gus Dur malah menggunakan waktunya dengan membaca Al-Qur’an dengan hafalan (Bil Ghoib). Sementara KH. Zainal dan panitia yang jelas secara fisik lebih sehat 100% dibanding Gus Dur saja sudah kecapaian, bahkan hampir terlelap. Namun, mereka terkejut ketika mendengar perlahan-lahan, ternyata Gus Dur sedang mendarus Al-Quran secara hafalan.  Kontan, rasa kantuk KH. Zainal dan panitia hilang, sambil penasaran KH. Zainal pun menyimak hafalannya Gus Dur,
Tak terasa, satu jam lewat sampailah di Pekalongan, air mata KH. Zainal tumpah ruah, ia membayangkan orang yang selama ini sering disalahpahami berbagai pihak, di kafir-kafirkan, dikritik, dihina, dan sebagainya. Malam itu dengan fisik dan kesehatan yang sangat terbatas dan kelelahan yang luar biasa setelah hampir sehari semalam beraktifitas penuh dengan berbagai kegiatan, malam ini dalam waktu satu jam perjalanan Semarang-Pekalongan ternyata masih menyempatkan membaca Al-Quran dengan hafalan sampai lima juz lebih. Allahu Akbar
Lalu apakah mereka yang mengkafir-kafirkan beliau sanggup melakukan hal demikian. Subhanallah,ternyata itu salah satu kebiasaan Gus Dur saat berada dalam mobil,  berbeda dengan kita, jangankan baca Al-Quran, berdoa saja terkadang lupa, malahan lebih parah lagi mendengarkan musik yang tidak karu-karuan (pop/rock). Apakah mereka yang merasa lebih Islami dari Gus Dur melakukan hal seperti itu?


Saifurroyya
Sumber: https://www.facebook.com/maghfiroh.simbany?ref=ts&fref=ts


Senin, 09 Juni 2014

Doa dan Amalan Rezeki Melimpah Dengan Perantara Al Qur’an

Doa Mujarab untuk mendatangkan Rezeki banyak sekali macamnya. Selain dengan menggunakan asmaul khusna, ayat 1000 dinar dan juga amalan untuk menuntaskan hutang, ada juga doa untuk rezeki melimpah dengan menggunakan wasilah al-Qur’an. Yaitu dengan banyak membaca al-Qur’an yang harus kita dawamkan.

Doa dan Amalan Rezeki Melimpah Dengan Perantara Al-Qur’an

Caranya adalah bacalah secara kontinyu dan istiqomah  doa di bawah ini sebanyak 3 x ini setelah anda mengaji atau membaca al-Qur’an surat apapun, sambil anda mencium Al Qur’an yang ada di rumah masing-masing. Insya allah rejeki mengalir melalui washilah/lantaran kitab suci yang kita miliki.
Inilah doanya:

الَّلهُمَّ اغْفِرْلِى بِالْقُرْآنِ
الّلهُمَّ ارْحَمْنِي بِالْقُرْآنِ
الّلهُمَّ اهْدِنِي بِاْلقُرْآنِ
اللهُمَّ ارْزُقْنِي بِاْلقُرْآنِ

ALLOHUMMAGHFIRLII BI ALQUR’AANI.
ALLOHUMMARHAMNII BI ALQUR’AANI.
ALLOHUMMAHDINII BI ALQUR’AANI.
ALLOHUMMARZUQNII BI ALQUR’AANI
Artinya:

Ya Allah, ampunilah aku dengan Al-Quran
Ya Allah, kasihilah aku dengan Al-Quran
Ya Allah, berilah petunjuk kepadaku dengan Al-Quran
Ya Allah, berilah rezeki kepadaku dengan Al-Quran.


Semoga dengan mengamalkan doa rezeki washilah al-Qur’an ini Allah berkenan melancarkan rezeki kita semua. Amin.