Tampilkan postingan dengan label seorang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label seorang. Tampilkan semua postingan

Minggu, 24 Agustus 2014

Ternyata Gus Dur Seorang Hafidz Al Qur’an

Gus Dur Bersama KH. Syaroni Ahmadi (Kudus)

Suatu ketika KH. Zainal Arifin pengasuh PP. Al Arifiyyah Medono Kota Pekalongan, diminta tolong oleh panitia untuk menjemput Al Maghfurlah KH. Abdurahman Wahid atau Gus Dur untuk mengisi sebuah acara akbar di Kota Pekalongan, waktu itu panitia minta didampingi KH. Zainal untuk menjemput Gus Dur yang sedang mengisi acara pengajian di Semarang Jateng, seusai acara dan ramah tamah dengan tamu-tamu, Gus Dur memutuskan untuk ikut rombongannya KH. Zainal dan Panitia ke Pekalongan, waktu itu meluncur dari Semarang antara jam 1- 2 dini hari, KH. Zainal dan Panitia setelah berbincang secukupnya dengan Gus Dur tahu diri dan mempersilahkan Gus Dur untuk Istirahat di mobil yang melaju dengan tenang sebab jalur pantura jam segitu juga sudah lengang dan sepi, apalagi dengan keterbatasan kesehatan Gus Dur dan seabrek kegiatannya dari pagi hingga dini hari tersebut tentu menguras banyak energi dan tenaga. Alih-alih istirahat, Gus Dur malah menggunakan waktunya dengan membaca Al-Qur’an dengan hafalan (Bil Ghoib). Sementara KH. Zainal dan panitia yang jelas secara fisik lebih sehat 100% dibanding Gus Dur saja sudah kecapaian, bahkan hampir terlelap. Namun, mereka terkejut ketika mendengar perlahan-lahan, ternyata Gus Dur sedang mendarus Al-Quran secara hafalan.  Kontan, rasa kantuk KH. Zainal dan panitia hilang, sambil penasaran KH. Zainal pun menyimak hafalannya Gus Dur,
Tak terasa, satu jam lewat sampailah di Pekalongan, air mata KH. Zainal tumpah ruah, ia membayangkan orang yang selama ini sering disalahpahami berbagai pihak, di kafir-kafirkan, dikritik, dihina, dan sebagainya. Malam itu dengan fisik dan kesehatan yang sangat terbatas dan kelelahan yang luar biasa setelah hampir sehari semalam beraktifitas penuh dengan berbagai kegiatan, malam ini dalam waktu satu jam perjalanan Semarang-Pekalongan ternyata masih menyempatkan membaca Al-Quran dengan hafalan sampai lima juz lebih. Allahu Akbar
Lalu apakah mereka yang mengkafir-kafirkan beliau sanggup melakukan hal demikian. Subhanallah,ternyata itu salah satu kebiasaan Gus Dur saat berada dalam mobil,  berbeda dengan kita, jangankan baca Al-Quran, berdoa saja terkadang lupa, malahan lebih parah lagi mendengarkan musik yang tidak karu-karuan (pop/rock). Apakah mereka yang merasa lebih Islami dari Gus Dur melakukan hal seperti itu?


Saifurroyya
Sumber: https://www.facebook.com/maghfiroh.simbany?ref=ts&fref=ts


Minggu, 20 April 2014

ABU SULAIMAN AD DARANI Dibangunkan Oleh Seorang Bidadari

Dia meriwayatkan kisah ini kepada Ahmad bin Abu Hawari, "Ketika aku sedang sujud, tiba-tiba saya terserang ngantuk. Tanpa aku duga, beberapa orang bidadari membangunkan aku dengan kakinya.

Bidadari itu berkata, Wahai kekasihku, apakah kamu masih akan tidur sementara para malaikat mengawasi orang-orang yang bangun untuk melaksanakan tahajud (qiyamul lail). Sungguh celaka mata yang lebih senang tidur daripada berjaga untuk bermunajat kepada Allah Yang Mahamulia. Bangunlah, sebentar lagi orang-orang yang mencintai Allah akan saling bertemu. Tidur macam apa ini? Wahai kekasihku dan permata hatiku, Apakah kamu masih juga akan tidur sementara aku menemanimu dalam keheningan malam ini sejak tadi.

Seketika itu aku melompat, bangun dengan bercucuran keringat karena rasa maluku terhadap celaan bidadari tersebut. Dan sungguh keindahan ucapannya senantiasa terasa dalam hati dan pendengaranku.”

Sumber : 99 Kisah Orang Shalih

Sabtu, 19 April 2014

BISYR AL HAFI Aku Hanyalah Seorang Budak

Dahulu, ketika Bisyr masih senang berfoya-foya di rumahnya, ia memiliki banyak sahabat yang mempunyai kebiasaan minum dan jor-joran.

Suatu hari, ada seorang shalih lewat di depan rumahnya lalu mengetuk pintu. Kemudian seorang budak perempuan keluar rumah untuk menemuinya.

Orang shalih itu bertanya, "Yang punya rumah ini orang merdeka atau budak."
Budak perempuan menjawab, "Orang merdeka."

Orang shalih berkata, "Benar jawabanmu, sekiranya pemilik rumah ini seorang budak, tentulah ia berperangai sebagaimana budak dan tidak berfoya-foya seperti ini."

Ternyata Bisyr (pemilik rumah) mendengar pembicaraan mereka berdua ini. Maka ia segera lari menuju pintu tanpa mengenakan sandal, namun orang shalih tersebut telah pergi.

Bisyr lalu berkata kepada budak perempuannya, "Celaka kamu, siapa yang mengajakmu bicara di depan pintu tadi?"

Kemudian sang budak menceritakan kejadian tersebut.

Bisyr bertanya, "Terus laki-laki tadi kemana?"
Budak menjawab, "Ke sana!"

Bisyr pun mengikuti kemana laki-laki itu menuju. Setelah dapat menyusul, Bisyr bertanya, "Wahai tuan, andakah tadi yang berhenti di depan pintu rumahku dan berbicara dengan budak perempuanku?"
Orang shalih menjawab, "Ya."

Bisyr berkata, "Tolong ulangi percakapan anda dengan budakku tadi!"
Orang shalih itu pun mengulangi pembicaraannya.

Seketika itu Bisyr pun menempelkan pipinya ke tanah, sambil berkata, "Wahai tuan, pemilik rumah itu seorang budak." Setelah itu ia senantiasa berjalan tanpa sandal hingga ia dikenal dengan sebutan hufa’, orang tak bersandal.

Banyak orang bertanya kepada Bisyr, "Mengapa kamu selalu tidak memakai sandal?"

Bisyr menjawab, "Karena Tuhanku tidak berkenan mene-muiku kecuali saat aku tidak mengenakan alas kaki. Aku akan terus bersikap demikian ini sehingga ajal menjemputku."

Sumber : 99 Kisah Orang Shalih